Selasa, 23 Desember 2014

Catatan 3 : BARONGAN

Di kampung kami ada sebuah barongan,
tempat itulah favorit buat kami anak-anak kampung,
ya, kami menyebutnya barongan.

Barongan adalah kebun bambu miliknya pak haji,
pak haji sendiri adalah orang yang paling kaya di kampung,
dan bliau satu2nya orang yang telah menunaikan ibadah haji di kampung kami.

kebun barongan pak haji lumayan luas,
karena tanaman bambu itu selalu bergerombol-gerombol (mbarong),
maka kami orang desa menyebutnya barongan.


Barongan bagi kami adalah seperti playground,
tempat bermain segala permainan,
setiap hari kami dan teman-teman selalu bermain disana,
baik teman laki-laki maupun perempuan.

anak laki2 biasanya bermain sepak bola, foli, kepangan(kuda lumping) prosotan, perang-perangan, petak umpat  sebagainya.
Sedangkan yang perempuan biasanya main lompat tali, folly atau sekedar menjadi penonton jika anak laki2 bermain.

Setiap hari selalu ada anak disana, jika dirumah bingung mau ngapain dan nggak ada teman, datang kesana pasti banyak teman, bahkan jika kumpul sangat banyak sekali. Setiap pulang sekolah jika tidak mencari rongsokan saya selalu bermain disana.
Para orang tua sangat mudah jika mencari anaknya yang keluar,
tinggal menuju kesana pasti sudah ada disana. Kadang kami sampai lupa makan,

barongan milik pak haji sangat berkesan bagi kami anak2 kampung,
kami menikmati masa kecil hanya disitu,
banyak sahabat terbentuk ditempat itu, tak jarang kami kejar2an dengan pak haji, karena kami sering memotong bamboo untuk petasan.

Pak haji orangnya baik, hanya saja ketika musim bamboo tunas bliau marah jika kami bermain disana, karena banyak bamboo muda yang rusak.
Tetapi itulah dunia

Permainan kami sangat aman,
Jauh dari teknologi modern seperti sekarang
Akan tetapi sama sekali menyenangkan bagi kami
Hingga saat ini ingatan masa kecil itu masih terngiang
Terimakasih teman2,
Terimakasih pak haji, atas playground(barongan) gratisnya..



Barongan benar-benar tempat istimewa bagi kami para anak-anak kampung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik Saran