Rumahku sangat sederhana, tidak besar, bahkan bisa dibilang
sangat kecil. Dingding terbuat dari anyaman bambu, lantainya langsung tanah,
penerangan masih lampu teplok dari minyak tanah, hanya hari2 spesial
menggunakan menggunakan yang lebih terang yaitu petromak, misalkan waktu
hajatan, atau punya acara2 tertentu.
Setiap hari rumahku tidak pernah sepi dari kunjungan
tetangga. Setiap malam selalu ada saja tetangga yang datang, entah 2,3 maupun 4
orang. Istilah bahasa kampung kami adalah “sonjo”
Sonjo artinya kunjung kerumah tetangga untuk sekedar
ngobrol2 dengan tetangga, entah kenapa orang2 lebih suka “sonjo” dirumah kami, padahal
tidak ada yang istimewa.
Langganan yang selalu setia sonjo dirumah kami yaitu Pak
Haji Nur Aziz, bliau orang terkaya dikampung kami, tanahnya banyak, kebun
bambunya luas, rumahnya besar dan selama itu belum ada yang menandingi
kekayaanya, akan tetapi bliau paling betah jika sudah ngobrol dengan bapak
saya. Bahkan hingga larut malam, seringkali jg sampai dini hari.
Sebenarnya aku fine-fine saja jika orang-orang itu sonjo
dirumahku. Hanya saja kami sering agak sebel jika sampai larut malam, kadang
merasa kasihan sama bapak, karena besok pagi harus kerja. Yang paling sebel
yaitu jika lampu templok dirumah kami habis minyaknya, tapi obrolan mereka
masih asik dan seru, akulah yang jadi korbanya, pastilah aku yang dibangunkan
untuk membeli minyak tanah. Padahal aku sudah ngantuk banget.
Tetapi kadang saya juga senang ketika dibangunkan untuk
membeli minyak malam-malam, walaupun sudah ngantuk banget. Jika yang menyuruh
pak haji, alamat aku selalu mendapatkan sisa kembaliannya, dan besok pagi bisa
aku masukan di “celenganku” begitulah rumahku setiap malam, (bersambung)
Sumbr Foto : Nuriman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kritik Saran