Senin, 15 Desember 2014

Catatan 2. SONJO

ronibang.blogspot.com
Rumahku sangat sederhana, tidak besar, bahkan bisa dibilang sangat kecil. Dingding terbuat dari anyaman bambu, lantainya langsung tanah, penerangan masih lampu teplok dari minyak tanah, hanya hari2 spesial menggunakan menggunakan yang lebih terang yaitu petromak, misalkan waktu hajatan, atau punya acara2 tertentu.

Setiap hari rumahku tidak pernah sepi dari kunjungan tetangga. Setiap malam selalu ada saja tetangga yang datang, entah 2,3 maupun 4 orang. Istilah bahasa kampung kami adalah “sonjo”
Sonjo artinya kunjung kerumah tetangga untuk sekedar ngobrol2 dengan tetangga, entah kenapa orang2 lebih suka “sonjo” dirumah kami, padahal tidak ada yang istimewa.


Langganan yang selalu setia sonjo dirumah kami yaitu Pak Haji Nur Aziz, bliau orang terkaya dikampung kami, tanahnya banyak, kebun bambunya luas, rumahnya besar dan selama itu belum ada yang menandingi kekayaanya, akan tetapi bliau paling betah jika sudah ngobrol dengan bapak saya. Bahkan hingga larut malam, seringkali jg sampai dini hari.

Sebenarnya aku fine-fine saja jika orang-orang itu sonjo dirumahku. Hanya saja kami sering agak sebel jika sampai larut malam, kadang merasa kasihan sama bapak, karena besok pagi harus kerja. Yang paling sebel yaitu jika lampu templok dirumah kami habis minyaknya, tapi obrolan mereka masih asik dan seru, akulah yang jadi korbanya, pastilah aku yang dibangunkan untuk membeli minyak tanah. Padahal aku sudah ngantuk banget.


Tetapi kadang saya juga senang ketika dibangunkan untuk membeli minyak malam-malam, walaupun sudah ngantuk banget. Jika yang menyuruh pak haji, alamat aku selalu mendapatkan sisa kembaliannya, dan besok pagi bisa aku masukan di “celenganku” begitulah rumahku setiap malam, (bersambung)
Sumbr Foto : Nuriman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik Saran