Sumber ; Yusuf Mansyur
Bismillahi minal awwali wal akhiri
... Allah SWT menciptakan semua makhluk telah sempurna dengan pembagian
rezekinya. Tidak ada satu pun yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk kita. Karena
itu, rezeki kita yang sudah Allah jamin pemenuhannya.
Yang dibutuhkan adalah mau atau
tidak kita mencarinya yang lebih tinggi lagi, benar atau tidak cara
mendapatkannya. Rezeki di sini tentu bukan sekadar uang. Ilmu, kesehatan,
ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan
termasuk pula rezeki, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding uang.
Walau demikian, ada banyak orang
yang dipusingkan dengan masalah pembagian rezeki ini. “Kok rezeki saya seret
banget, padahal sudah mati-matian mencarinya?” “Mengapa ya saya gagal terus
dalam bisnis?” “Mengapa hati saya tidak pernah tenang?”
Ada banyak penyebab, mungkin cara
mencarinya yang kurang profesional, kurang serius mengusahakannya, atau ada
kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla “menahan” rezeki yang
bersangkutan.
Poin terakhir inilah yang akan kita
bahas. Mengapa aliran rezeki kita tersumbat? Apa saja penyebabnya?
Saudaraku, Allah adalah Dzat
Pembagi Rezeki. Tidak ada setetes pun air yang masuk ke mulut kita kecuali atas
izin-Nya. Karena itu, jika Allah SWT sampai menahan rezeki kita, pasti ada
prosedur yang salah yang kita lakukan. Setidaknya ada lima hal yang menghalangi
aliran rezeki.
Pertama, lepasnya ketawakalan dari hati. Dengan kata lain, kita
berharap dan menggantungkan diri kepada selain Allah. Kita berusaha, namun
usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal Allah itu sesuai
prasangka hamba-Nya. Ketika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah, maka
keburukan-lah yang akan ia terima.
Barangsiapa yang bertawakal kepada
Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Demikian janji Allah
dalam QS Ath Thalaaq [63] ayat 3.
Kedua, dosa dan maksiat yang kita lakukan. Dosa adalah penghalang
datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang terjauh dari
rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad).
Saudaraku, bila dosa menyumbat
aliran rezeki, maka tobat akan membukanya.
Andai kita simak, doa minta hujan
isinya adalah permintaan tobat, doa Nabi Yunus saat berada dalam perut ikan
adalah permintaan tobat, demikian pula doa memohon anak dan Lailatul Qadar
adalah tobat. Karena itu, bila rezeki terasa seret, perbanyaklah tobat, dengan
hati, ucapan dan perbuatan kita.
Ketiga, maksiat saat mencari nafkah. Apakah pekerjaan kita
dihalalkan agama?
Jika memang halal, apakah benar
dalam mencari dan menjalaninya? Tanyakan selalu hal ini....
Kecurangan dalam mencari nafkah,
entah itu korupsi (waktu, uang), memanipulasi timbangan, praktik mark up, dsb
akan membuat rezeki kita tidak berkah....
Mungkin uang kita dapat, namun
berkah dari uang tersebut telah hilang. Apa ciri rezeki yang tidak berkah?
Mudah menguap untuk hal sia-sia, tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk
taat kepada Allah serta membawa penyakit....
Bila kita terlanjur melakukannya,
segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya...
Keempat, pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah.
Bertanyalah, apakah aktivitas kita selama ini membuat hubungan kita dengan
Allah makin menjauh? Terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau minimal
jadi telat), lupa membaca Alquran, lupa berdzikir, lupa mendidik keluarga,
adalah sinyal-sinyal pekerjaan kita tidak berkah....
Jika sudah demikian, jangan heran
bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat kita
semakin dekat dengan Allah. sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah kita
abaikan...
Saudaraku, bencana sesungguhnya
bukanlah bencana alam yang menimpa orang lain. Bencana sesungguhnya adalah saat
kita semakin jauh dari Allah...
Kelima, enggan bersedekah. Siapapun yang pelit, niscaya hidupnya
akan sempit, rezekinya mampet. Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala,
penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki....
Sedekah bagaikan sebutir benih
menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji.
Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat (QS
Al Baqarah [2]: 261).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kritik Saran