Minggu, 14 Desember 2014

Rejeki Yang Tidak Disangka

ronibang.blogspot.com

Kalimat itu pernah aku dengar ketika aku masih tinggal di Lasem Rembang Jawa Tengah, ketika itu aku masih jadi santri ingusan, santri yang masih culun, kalimat itu aku dapat dari seorang Ustad yang sedang ceramah, tetapi beliau mengucapkanya dengan Bahasa Arab “Min Haitsu La Yahtasif”
Di kalangan pesantren, kalimat itu juga sangat familiar, dan sebenarnya semua orang pasti mengalami hal itu. Hanya saja mereka menganggap itu adalah kebetulan biasa. Saya sendiri sering mengalaminya, bahkan ketika udah mentok ada saja rejeki yang tidak disangka tadi datang sesuai dengan kebutuhanya. Dan saya yakin banyak orang yang pernah mengalaminya.


Hari ini saya akan bercerita sedikit yang sedang saya alami.
Kami adalah keluarga yang tidak mampu, bapak hanya seorang tukang kebersihan di asrama mahasiswa Universitas Negeri Malang dengan gaji amat sangat tidak layak, yaitu 500 rb per bulan. Ibu saya seorang ibu rumah tangga tulen, tidak pernah merasakan bekerja yang menghasilkan uang untuk keperluan rumah tangga, tapi kami mengakui bahwa jasa ibu kami sangat besar di keluarga. Saya anak pertama yang sedang merampungkan study megister saya di Universitas Negeri Malang. Adik saya yang pertama sudah menikah duluan, karena dulu tidak mau sekolah sekolah, dan alhamdulilah sekarang bekerja di Universitas Negeri malang, sebagai tenaga kebersihan juga menggantikan bapak, hanya saja adik lebih beruntung, karena dari gaji lebih banyak dari bapak. Adek yang kedua telah menyelesaikan SPd nya di universitas yang sama, dan habis mengikuti program SM3T di Sulawesi selama 1 tahun, dan saat ini nunggu program beasiswanya untuk menyelesaikan PPG nya di universitas yang sama. Dan adek yang terakhir baru masuk di universitas yang sama dan baru akan masuk semester 2.

Dirumah kami setiap sore hari anak2 SD yang ada di sekitar kampung  les atau bimbingan belajar, adik2 saya yang mengajari mereka, misalkan ada PR atau tugas2 dari sekolah. Karena setiap hari para anak2 belajar sehingga para orang tua dari anak2 tersebut mendorong agar di komersilkan, istilahnya ada biaya dalam belajar, akan tetapi ibu saya selalu melarangnya, biarlah anak2 belajar tanpa ada biaya sepeserpun. Itulah yang membuat saya slalu bangga sama ibu.ibu selalu mengajarkan kepada kami keihlasan, biarlah Alloh menggantinya dengan yang lain.


Bulan ini adalah waktunya saya dan adik bayar kuliah untuk semester 2, saya semester 4. Awal adik masuk kuliah dan kena biaya UKT 3,5 juta setiap semester kami sekeluarga sempat khawatir, apakah nanti untuk biaya semester kedua dan seterusnya bisa terbayarkan, dalam pikiran kami ketakutan itulah yang selalu menghantui, untuk pembayaran kuliah saya pribadi akan saya usahakan sekuat tenaga agar bisa membayar, entah dengan hutang sana sini, yang penting orang tua saya tidak tahu. Tetapi bagaimana dengan biaya adik saya?entahlah..
Saya dan bapak sudah berancang2 untuk menghadap pimpinan kampus, intinya bagaimanapun juga kami tidak sanggup jika membayar begitu banyaknya, sedangkan bapak gajinya 500 ribu sebulan, waktu untuk membayar kurang sekitar 1 bulan, kami pun mulai panic, uang dari mana untuk membayar nanti, kebetulan kamibaru saya merehap rumah,dan tabungan adik juga sudah terlanjur buat beli motor, ditambah lagi saya akan melangsungkan pernihkahan bulan depan, otomatis kepanikan semakin menjadi2, dan fikiran semakin kalut. Tapi tuhan rupanya masih sayang kepada keluarga kami, tiba-tiba dikampus ada pengumuman susulan beasiswa bidikmisi, dan salah satu nama yang diumumkan adalah nama adik saya, dalam pengumuman itu menginformasikan bagi nama-nama yang tercantum untuk segera membuat rekening di bank yang ada didekat kampus, kami sekeluargapun mulai berharap, mudah2an ini adalah benar2 kabar baik, dan setelah selesai di urus semua tinggal menunggu.

Batas akhir pembayaran kampus tinggal seminggu lagi, kami pun mulai panic lagi, jika beasiswa tersebut belum turun otomatis kamu harus membayar dulu SPPnya, karena pihak kampus tidak mau rugi. Kami mencoba untuk menanyakan ke bank yang bersangkutan, dan mendapat jawaban agak menunggu. Tidak sabar menunggu kami mencoba mengecek web kampus, apakah nama adik sudah registrasi atau belum, dan alhamdulilah sudah registrasi, itu artinya dana SPP sudah cair dan otomatis sudah terbayarkan, kami pun mencoba mengecek ATM yang di pegang adik, dan ternyata isinya 1,8 juta, dan kamipun tenang, bersyukur serta bahagia,

Dan kami mengambil kesimpulan inilah yang mungkin disebut rejeki yang tidak disangka2,,
Tuhan terimakasih atas rejeki yang engkau berikan,

Bimbinglah kami agar selalu ada dijalanmu,, terimakasih Tuhan.
(gambar : jambanpanyileukan.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik Saran