Kalimat itu pernah aku dengar
ketika aku masih tinggal di Lasem Rembang Jawa Tengah, ketika itu aku masih
jadi santri ingusan, santri yang masih culun, kalimat itu aku dapat dari
seorang Ustad yang sedang ceramah, tetapi beliau mengucapkanya dengan Bahasa
Arab “Min Haitsu La Yahtasif”
Di kalangan pesantren, kalimat itu
juga sangat familiar, dan sebenarnya semua orang pasti mengalami hal itu. Hanya
saja mereka menganggap itu adalah kebetulan biasa. Saya sendiri sering
mengalaminya, bahkan ketika udah mentok ada saja rejeki yang tidak disangka
tadi datang sesuai dengan kebutuhanya. Dan saya yakin banyak orang yang pernah
mengalaminya.
Hari ini saya akan bercerita
sedikit yang sedang saya alami.
Kami adalah keluarga yang tidak
mampu, bapak hanya seorang tukang kebersihan di asrama mahasiswa Universitas
Negeri Malang dengan gaji amat sangat tidak layak, yaitu 500 rb per bulan. Ibu
saya seorang ibu rumah tangga tulen, tidak pernah merasakan bekerja yang
menghasilkan uang untuk keperluan rumah tangga, tapi kami mengakui bahwa jasa
ibu kami sangat besar di keluarga. Saya anak pertama yang sedang merampungkan
study megister saya di Universitas Negeri Malang. Adik saya yang pertama sudah
menikah duluan, karena dulu tidak mau sekolah sekolah, dan alhamdulilah
sekarang bekerja di Universitas Negeri malang, sebagai tenaga kebersihan juga
menggantikan bapak, hanya saja adik lebih beruntung, karena dari gaji lebih
banyak dari bapak. Adek yang kedua telah menyelesaikan SPd nya di universitas
yang sama, dan habis mengikuti program SM3T di Sulawesi selama 1 tahun, dan
saat ini nunggu program beasiswanya untuk menyelesaikan PPG nya di universitas
yang sama. Dan adek yang terakhir baru masuk di universitas yang sama dan baru
akan masuk semester 2.
Dirumah kami setiap sore hari anak2
SD yang ada di sekitar kampung les atau
bimbingan belajar, adik2 saya yang mengajari mereka, misalkan ada PR atau
tugas2 dari sekolah. Karena setiap hari para anak2 belajar sehingga para orang
tua dari anak2 tersebut mendorong agar di komersilkan, istilahnya ada biaya
dalam belajar, akan tetapi ibu saya selalu melarangnya, biarlah anak2 belajar
tanpa ada biaya sepeserpun. Itulah yang membuat saya slalu bangga sama ibu.ibu
selalu mengajarkan kepada kami keihlasan, biarlah Alloh menggantinya dengan
yang lain.
Bulan ini adalah waktunya saya dan
adik bayar kuliah untuk semester 2, saya semester 4. Awal adik masuk kuliah dan
kena biaya UKT 3,5 juta setiap semester kami sekeluarga sempat khawatir, apakah
nanti untuk biaya semester kedua dan seterusnya bisa terbayarkan, dalam pikiran
kami ketakutan itulah yang selalu menghantui, untuk pembayaran kuliah saya
pribadi akan saya usahakan sekuat tenaga agar bisa membayar, entah dengan
hutang sana sini, yang penting orang tua saya tidak tahu. Tetapi bagaimana
dengan biaya adik saya?entahlah..
Saya dan bapak sudah berancang2
untuk menghadap pimpinan kampus, intinya bagaimanapun juga kami tidak sanggup
jika membayar begitu banyaknya, sedangkan bapak gajinya 500 ribu sebulan, waktu
untuk membayar kurang sekitar 1 bulan, kami pun mulai panic, uang dari mana
untuk membayar nanti, kebetulan kamibaru saya merehap rumah,dan tabungan adik
juga sudah terlanjur buat beli motor, ditambah lagi saya akan melangsungkan
pernihkahan bulan depan, otomatis kepanikan semakin menjadi2, dan fikiran semakin
kalut. Tapi tuhan rupanya masih sayang kepada keluarga kami, tiba-tiba dikampus
ada pengumuman susulan beasiswa bidikmisi, dan salah satu nama yang diumumkan
adalah nama adik saya, dalam pengumuman itu menginformasikan bagi nama-nama
yang tercantum untuk segera membuat rekening di bank yang ada didekat kampus,
kami sekeluargapun mulai berharap, mudah2an ini adalah benar2 kabar baik, dan
setelah selesai di urus semua tinggal menunggu.
Batas akhir pembayaran kampus
tinggal seminggu lagi, kami pun mulai panic lagi, jika beasiswa tersebut belum
turun otomatis kamu harus membayar dulu SPPnya, karena pihak kampus tidak mau
rugi. Kami mencoba untuk menanyakan ke bank yang bersangkutan, dan mendapat
jawaban agak menunggu. Tidak sabar menunggu kami mencoba mengecek web kampus,
apakah nama adik sudah registrasi atau belum, dan alhamdulilah sudah
registrasi, itu artinya dana SPP sudah cair dan otomatis sudah terbayarkan,
kami pun mencoba mengecek ATM yang di pegang adik, dan ternyata isinya 1,8
juta, dan kamipun tenang, bersyukur serta bahagia,
Dan kami mengambil kesimpulan
inilah yang mungkin disebut rejeki yang tidak disangka2,,
Tuhan terimakasih atas rejeki yang
engkau berikan,
Bimbinglah kami agar selalu ada
dijalanmu,, terimakasih Tuhan.
(gambar : jambanpanyileukan.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kritik Saran