Oleh : Nany Safrianty
Jurnal Belajar Mata Kuliah Strategi
dan Model-model Pembelajaran
Dosen Pembina : Prof. Dra. Herawati
Susilo, M. Sc., Ph. D.
Assalamualaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh..
Hari ini, kelompok kami yaitu
kelompok lima yang terdiri dari Nani Farah Fasica, Nany Safrianty dan Nuyan
Saroni mendapat giliran untuk presentasi tentang tantangan guru dalam
membelajarkan siswa abad 21 mengenai keterampilan ilmiah dan komunikasi. Moderator
dari kelompok kami adalah Nani Farah Fasica yang biasa dipanggil Ica.
Kami
mempresentasikan slide demi slide dari powerpoint yang telah dibuat. Presentasi
kelompok 5 dimulai dari pemaparan materi yang dijelaskan leader kami oleh Bapak
Nuyan Saroni ( laki-laki paling macho di kelompok kami ), yaitu tentang
tantangan mengajar guru abad 21 tentang keterampilan ilmiah. Selang sepuluh
menit memaparkan materi, tiba-tiba ada gestur tubuh partisipan dari belakang
yang menunjukkan selembar kertas yang bertuliskan “ Mbak Ica presentasinya 15
menit aja yah jangan lama-lama”.
Dengan mimik
wajah yang sumringah dan hati yang berbunga-bunga, semua anggota kelompok yang
ada di depan kelas tersenyum manis pada semua partisipan yang ada di belakang (
hehehe). Setelah pemaparan materi pertama selesai, kemudian dilanjutkan
pemaparan materi kedua oleh Mbak Nany Safrianty yang menjelaskan tentang
tantangan guru pada abad 21 tentang keterampilan komunikasi guru kepada siswa,
pemaparan materi ke dua kira-kira berkisar 3 menit ( sekali lagi karena di
kejar waktu, jadi saran dari moderator baca intinya materi saja).
Setelah
pemaparan seluruh materi, Ica mempersilakan untuk bertanya kepada dua orang
penanya saja. Berhubung waktu yang terbatas, penanya juga sangat dibatasi.
Pertanyaan pertama datang dari Mbak Uni yang menanyakan pengertian dan
pengaplikasian lima strategi yang dapat dikembangkan dalam upaya menciptakan
komunikasi yang efektif seperti; respek, empati, audible, jelas maknanya, dan
rendah hati. Lalu, pertanyaan kedua datang dari Titi yang menanyakan cara agar
kemajuan teknologi tidak melunturkan budaya.
Pertanyaan dari
Mbak Uni langsung dijawab oleh Ica yang memberi penjelasan tentang lima hal
yang ditanyakan tadi, dengan jawaban sebagai berikut:
• Respek adalah rasa saling
menghargai dalam berkomunikasi.
• Empati adalah kemampuan untuk
menempatkan diri kita pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang lain.
• Audible adalah dapat didengarkan
atau bisa dimengerti dengan baik.
• Jelas makna adalah menyampaikan
pesan yang tidak menimbulkan banyak pemahaman, selain harus terbuka dan
transparan.
• Rendah hati adalah saling
menghargai, tidak memandang rendah, lemah lembut, sopan, dan penuh pengendalian
diri.
Setelah itu,
datang pertanyaan dari Azam yang menanyakan apakah kelima aspek tersebut sudah
benar-benar dipraktekkan di tingkat SMP dan SMA. Mas Roni menyatakan bahwa lima
aspek tersebut dapat dipraktekkan oleh guru dengan menyesuaikan kemampuan siswa
dalam belajar. Lalu, Nany menambahkan bahwa semua aspek tersebut tentu saja diterapkan
di SMP dan SMA, hanya saja butuh penanganan khusus. Karena, pada usia SMP dan
SMA, siswa sudah memiliki pola pikir yang tinggi dan berbeda dengan anak SD
yang lebih banyak menurut apabila diminta untuk mengerjakan sesuatu.
Selanjutnya, Ari menambahkan bahwa strategi lebih penting dari ilmu, guru lebih
penting dari strategi, ruh seorang guru lebih penting dari guru itu sendiri.
Pernyataan Ari langsung mendapat sambutan tepuk tangan dari audiens. Kata
Ariel, “Kamu luar biasa” ^^.
Pertanyaan kedua
dari Titi dijawab oleh Mas Roni, yaitu dengan cara mengangkat budaya dan
dimasukkan ke dalam kecanggihan teknologi. Sehingga, akan berpengaruh positif
terhadap pola pikir anak terhadap budaya. Hal ini juga berkaitan dengan
kemampuan guru dalam mengangkat budaya agar dapat bersinkronisasi dengan
teknologi yang maju saat ini. Mas Iqbal menambahkan bahwa budaya lebih dulu
lahir daripada teknologi, jadi jangan sampai teknologi merusak budaya. Hal ini
juga kembali pada kemampuan guru meleburkan budaya dalam teknologi. Namun, guru
harus memahami budaya itu sendiri. Lalu, Mas Kun menimpali bahwa persoalan
budaya itu harus dibiasakan dari rumah. Misalnya, orangtua mendampingi anak
dalam menonton acara televisi yang memperlihatkan kekayaan budaya.
Karena kedua
pertanyaan sudah dijawab dan waktu yang terbatas, Ica membacakan kesimpulan
dari diskusi yang telah kami laksanakan. Kesimpulannya sebagai berikut:
“Keterampilan ilmiah dan komunikasi
hendaknya sudah dipelajari oleh guru maupun calon guru sejak dini. Hal ini sangat
bermanfaat dalam berinteraksi dengan siswa, agar pembelajaran menjadi lebih
hidup dan menyenangkan, serta tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan dapat
tercapai dengan optimal”
Diskusi selesai
dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hehehe
Setelah itu, Bu Hera merangkum inti
diskusi hari ini. Beliau menyatakan bahwa pembahasan tantangan guru abad 21
tujuannya adalah memasukkan bagaimana implementasi pembelajaran guru abad 21
untuk diterapkan dalam strategi, lalu dituangkan dalam penyusunan RPP.
Walaupun singkat, diskusi ini
banyak yang ingin menanggapi. Syukurlah^^
Baik, sampai ketemu dalam diskusi
minggu depan. Tetap semangat yaa!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kritik Saran