Selasa, 24 September 2013

Presentasi Kuliah

Oleh : Nany Safrianty
Jurnal Belajar Mata Kuliah Strategi dan Model-model Pembelajaran
Dosen Pembina : Prof. Dra. Herawati Susilo, M. Sc., Ph. D.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Hari ini, kelompok kami yaitu kelompok lima yang terdiri dari Nani Farah Fasica, Nany Safrianty dan Nuyan Saroni mendapat giliran untuk presentasi tentang tantangan guru dalam membelajarkan siswa abad 21 mengenai keterampilan ilmiah dan komunikasi. Moderator dari kelompok kami adalah Nani Farah Fasica yang biasa dipanggil Ica.


Kami mempresentasikan slide demi slide dari powerpoint yang telah dibuat. Presentasi kelompok 5 dimulai dari pemaparan materi yang dijelaskan leader kami oleh Bapak Nuyan Saroni ( laki-laki paling macho di kelompok kami ), yaitu tentang tantangan mengajar guru abad 21 tentang keterampilan ilmiah. Selang sepuluh menit memaparkan materi, tiba-tiba ada gestur tubuh partisipan dari belakang yang menunjukkan selembar kertas yang bertuliskan “ Mbak Ica presentasinya 15 menit aja yah jangan lama-lama”.

Dengan mimik wajah yang sumringah dan hati yang berbunga-bunga, semua anggota kelompok yang ada di depan kelas tersenyum manis pada semua partisipan yang ada di belakang ( hehehe). Setelah pemaparan materi pertama selesai, kemudian dilanjutkan pemaparan materi kedua oleh Mbak Nany Safrianty yang menjelaskan tentang tantangan guru pada abad 21 tentang keterampilan komunikasi guru kepada siswa, pemaparan materi ke dua kira-kira berkisar 3 menit ( sekali lagi karena di kejar waktu, jadi saran dari moderator baca intinya materi saja).

Setelah pemaparan seluruh materi, Ica mempersilakan untuk bertanya kepada dua orang penanya saja. Berhubung waktu yang terbatas, penanya juga sangat dibatasi. Pertanyaan pertama datang dari Mbak Uni yang menanyakan pengertian dan pengaplikasian lima strategi yang dapat dikembangkan dalam upaya menciptakan komunikasi yang efektif seperti; respek, empati, audible, jelas maknanya, dan rendah hati. Lalu, pertanyaan kedua datang dari Titi yang menanyakan cara agar kemajuan teknologi tidak melunturkan budaya.

Pertanyaan dari Mbak Uni langsung dijawab oleh Ica yang memberi penjelasan tentang lima hal yang ditanyakan tadi, dengan jawaban sebagai berikut:
• Respek adalah rasa saling menghargai dalam berkomunikasi.
• Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri kita pada situasi dan kondisi yang dihadapi orang lain.
• Audible adalah dapat didengarkan atau bisa dimengerti dengan baik.
• Jelas makna adalah menyampaikan pesan yang tidak menimbulkan banyak pemahaman, selain harus terbuka dan transparan.
• Rendah hati adalah saling menghargai, tidak memandang rendah, lemah lembut, sopan, dan penuh pengendalian diri.

Setelah itu, datang pertanyaan dari Azam yang menanyakan apakah kelima aspek tersebut sudah benar-benar dipraktekkan di tingkat SMP dan SMA. Mas Roni menyatakan bahwa lima aspek tersebut dapat dipraktekkan oleh guru dengan menyesuaikan kemampuan siswa dalam belajar. Lalu, Nany menambahkan bahwa semua aspek tersebut tentu saja diterapkan di SMP dan SMA, hanya saja butuh penanganan khusus. Karena, pada usia SMP dan SMA, siswa sudah memiliki pola pikir yang tinggi dan berbeda dengan anak SD yang lebih banyak menurut apabila diminta untuk mengerjakan sesuatu. Selanjutnya, Ari menambahkan bahwa strategi lebih penting dari ilmu, guru lebih penting dari strategi, ruh seorang guru lebih penting dari guru itu sendiri. Pernyataan Ari langsung mendapat sambutan tepuk tangan dari audiens. Kata Ariel, “Kamu luar biasa” ^^.

Pertanyaan kedua dari Titi dijawab oleh Mas Roni, yaitu dengan cara mengangkat budaya dan dimasukkan ke dalam kecanggihan teknologi. Sehingga, akan berpengaruh positif terhadap pola pikir anak terhadap budaya. Hal ini juga berkaitan dengan kemampuan guru dalam mengangkat budaya agar dapat bersinkronisasi dengan teknologi yang maju saat ini. Mas Iqbal menambahkan bahwa budaya lebih dulu lahir daripada teknologi, jadi jangan sampai teknologi merusak budaya. Hal ini juga kembali pada kemampuan guru meleburkan budaya dalam teknologi. Namun, guru harus memahami budaya itu sendiri. Lalu, Mas Kun menimpali bahwa persoalan budaya itu harus dibiasakan dari rumah. Misalnya, orangtua mendampingi anak dalam menonton acara televisi yang memperlihatkan kekayaan budaya.

Karena kedua pertanyaan sudah dijawab dan waktu yang terbatas, Ica membacakan kesimpulan dari diskusi yang telah kami laksanakan. Kesimpulannya sebagai berikut:
“Keterampilan ilmiah dan komunikasi hendaknya sudah dipelajari oleh guru maupun calon guru sejak dini. Hal ini sangat bermanfaat dalam berinteraksi dengan siswa, agar pembelajaran menjadi lebih hidup dan menyenangkan, serta tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan dapat tercapai dengan optimal”

Diskusi selesai dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hehehe
Setelah itu, Bu Hera merangkum inti diskusi hari ini. Beliau menyatakan bahwa pembahasan tantangan guru abad 21 tujuannya adalah memasukkan bagaimana implementasi pembelajaran guru abad 21 untuk diterapkan dalam strategi, lalu dituangkan dalam penyusunan RPP.
Walaupun singkat, diskusi ini banyak yang ingin menanggapi. Syukurlah^^

Baik, sampai ketemu dalam diskusi minggu depan. Tetap semangat yaa!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik Saran